Sunday, 5 January 2014

Pengalaman dengan Demam Berdarah

Suatu pengalaman yang kurang mengenakkan memang terasa tidak nyaman ketika mengalaminya, tapi selalu dapat kita ceritakan setelah kita berhasil melaluinya.

Sekarang musimnya banyak yang terserang DB (Demam Berdarah), kemarin masih di desaku, tapi letaknya beberapa blok, 1-2 km an lah dari rumah, banyak yang terkena DB. Ya seperti sudah kita ketahui nyamuk DB jika menyerah seseorang selalu berpotensi juga orang-orang di sekitar situ untuk terserang juga, (semoga tidak lagi... Aamiin). Jadi, biasanya antisipasinya, ya begitu ada satu orang saja yang terkena DB biasanya langsung dilakukan foging di rumah dan sekitar orang yang kena DB.

Aku dulu pernah terkena DB juga, beberapa tahun yang lalu, sekitar tahun 1998 atau 1999 aku lupa, yang kuingat saat itu aku masih duduk di bangku kelas 4 SD. Awal gejalanya badan terasa lesu, dan males banget mau ngapa-ngapain, temen-temenku aja heran kok aku gak seceria biasanya, padahal saat awal berangkat aku masih baik-baik saja.

Sampai di rumah, aku yang biasa gak pernah dibolehin minum es karena punya sakit amandel, sama Ibu waktu itu dikasi es, aku gak bilang kalau badan terasa gak enak, karena kalau ngomong nanti gak jadi dikasi es^^. Sampai sore harinya badan jadi semakin panas, dan malah lemes banget. Karena khawatir, ibu membawaku ke bidan, dan katanya gejala tipus. Satu hari konsumsi obat dari bidan gak da kemajuan sama sekali, masih panas dan malah sering muntah-muntah. Dan malam berikutnya aku dibawa ke dokter, itu kondisinya sudah gak mau makan, dan muntah terus. Dari dokterpun gejala tipus diagnosanya, dikasi obat terus pulang.

Setelah dari dokterpun besoknya masih belum ada perkembangan yang berarti masih lemes, demam, dan muntah-muntah, gak doyan maem. Karena kahawatir akhirnya abah membawaku ke puskesmas, dan disanalah dicurigai aku terkena DB, untuk memastikannya dilakukanlah test darah. Dan benar ternyata demam berdarah. Alhamdulillah, gak sampek telat membawanya ke puskesmas. Setelah 5 hari opname, akhirnya dibolehin pulang, kondisi saat pulang sudah baik, maem pun sudah mulai banyak, dan seminggu kemudian sudah bisa masuk sekolah.

Setelah aku sembuh, gantian saudaraku yang terkena DB, dia dirawat di puskesmas yang sama saatku dirawat. Dan benarkan, bahwa ketika terjadi DB maka daerah sekitar penderita harus diantisipasi, karena sangat berpotensi terkena DB, seperti saudaraku ini.

Ya cukup sekian sekelumit cerita tentang pengalamku dengan DB.


Iftina^_^

No comments:

Post a Comment