Friday, 18 April 2014

Film Gie

Film ini dibuat oleh Mira Lesmana selaku produsernya, dan Riri riza sebagai sutradanya. Tokoh utamanya "Gie" diperankan oleh Nicholas Saputra, yang pas banget menurutku.

Membuka kembali hal-hal tentang film Gie menurut versiku sebenarnya diawali kemarin waktu iseng-iseng pengen dengerin lagu ost. Gie yang Cahaya Bulannya Erros sambil sekalian lihat video klipnya di youtube.com, dan ternyata aku juga ketemu dengan acara Kick Andy yang temanya bahas tentang Soe Hok Gie. Dan aku jadi tahu lagi tentang Gie.

Menceritakan apa yang ada di Kick Andy yang aku tonton waktu edisi "Gie":

Mira Lesmana yang awalnya tertarik untuk memfilmkan kisah Gie ini karena membaca buku harian Gie yang dibukukan,judulnya "Catatan Seorang Demonstran". Kata Mira, dia sangat berkesan dengan sebuah kalimat di buku itu yang bunyinya, "lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan".

Sangat hebat mbak Mira Lesmana ini ya, begitu berkesannya dengan buku, karena ia seorang yang bekerja di bidang film, maka ia menuangkannya dalam bentuk film, memfilmkan suatu kisah dan tokoh yang menginspirasinya. Dan begitu juga seorang penulis akan menuangkan suatu yang berkesan baginya dalam bentuk tulisan (meski aku masih penulis amatiran, dan tulisannya jauh dari bagus, malah banyak typo dimana-mana, tapi seneng menuliskan kembali apa yang telah aku tonton, aku baca, aku lihat). Semoga semua orang bisa begitu ya, mengapresiasikan suatu dalam bentuk yang positif... Aamiin...

Yang menarik dari pribadi Gie itu teguhnya ia pada apa yang ia yakini benar, misalnya saja waktu ia sekolah dan mendapat nilai yang jelek karena gurunya tidak suka padanya, dan temannya yang harusnya dapat nilai jelek malah dapat bagus, karena keponakan gurunya itu, ia tetep gak terima waktu tidak dinaikkan kelas, karena ia yakin ia pintar dan nilainya bagus(sampai sebegitunya ya). Sepulang sekolah ia ingin memberi pelajaran pada gurunya, karena protesnya gak didenger (jangan ditiru yang ini soale Gie mau mukul Gurunya), ia dan seorang temannya membututi Guru itu hingga sampai di tempat sepi yang kebetulan deket dengan rumah Guru itu, ketika temannya siap memukul, Gie melarangnya, karena Gie melihat kondisi gurunya yang hidupnya sangat memprihatinkan, rumahnya di daerah yang bisa dikatakana kumuh, Gie akhirnya membatalkan niat gak baiknya itu, karena ia prihatin dengan kondisi gurunya. Memang di film selain keteguhannya dengan prinsip Gie juga diceritakan sebagian sosok yang sangat peduli dengan sesama. Gie adalah seorang yang sangat membela dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Dan kalau tertarik dengan kisahnya baca saja bukunya atau tonton filmnya.^^

-------------------------------------------------------

Di film ini soudtracknya bagus, salah satunya adalah Cahaya Bulan. Puisi dan tulisan-tulisan Gie yang dicantumkan di film juga bagus. Aku sangat suka isi surat Gie yang diberikan ke teman ceweknya waktu ia sudan meninggal, isinya seperti berikut:

Ini adalah surat yang ditulis Gie untuk Ira. Surat ini disampaikan oleh Denny, rekan Gie dan Ira...


Ada orang yang menghabiskan waktunya ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Mirasa

Tapi aku ingin menghabiskan waktu ku di sisi mu... sayangku...
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danau
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biapra

Tapi aku ingin mati di sisi mu...
Manis ku...
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari sini sayang ku...
Kalian yang pernah mesra
Yang simpati dan pernah baik pada ku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung...
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita tak kan pernah kehilangan apa-apa

Selasa, 11 November 1969


Ini adalah puisi terakhir karya Soe Hok Gie. Dia bercerita tentang beruntungnya orang yang mati muda. Sebab menurutnya, semakin tua semakin banyak dosa yang kita perbuat. Soe Hok Gie sendiri mati di usianya yang masih muda.....

Nasib terbaik adalah tak pernah dilahirkan
Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda

Mahluk kecil...
Kembalilah dari tiada ke tiada...
Berbahagialah dalam ketiadaan mu.. (Sumber Puisi: chronoself.blogspot.com/2010/11/surat-soe-hok-gie-untuk-ira.html?m=1)

Aku pernah menyimpan puisi ini di buku binderku saat SMA, dan aku mencatatnya dengan cara mengepause berulang-ulang bagian akhir film, karena buku itu masih ada di rumahku dan tersimpan dengan buku-buku lainnya jadinya aku mencari puisi ini di internet.

Sumber gambar:www.google.com

Iftina ^_^

No comments:

Post a Comment