Tuesday, 13 May 2014

Segelas Kopi di Pagi Hari

Apa yang kamu pikirkan ketika terbersit ingatan akan kopi di pagi hari?
Aku ingat kisah Syalimah dan Zamzami di novelnya Andrea Hirata "Cinta di Dalam Gelas". Cuplikan dalam novel yang berkesan sebagai berikut:
"Syalimah berkisah tentang Zamzami, ayah mereka. 'Ia adalah lelaki yang baik dengan cinta yang baik. Jika kami duduk di beranda, ayahmu mengambil antip dan memotong kuku-kukuku. CINTA seperti itu akan dibawa perempuan sampai mati'." (Cinta di dalam Gelas, hal 10)
"Jika kuseduhkan kopi ayahmu menghirupnya pelan-pelan lalu tersenyum padaku." Meski tak terkatakan.... Senyum itu adalah ucapan saling berterima kasih antara ayah ibu mereka untuk kasih sayang yang balas-membalas, dan kopi itu adalah CINTA di dalam GELAS.
(Cinta di dalam Gelas, hal : 11)
Dan "Cinta di dalam Gelas" menjadi judul novel dari Andrea Hirata tersebut, meski kisah keseluruhan lebih banyak tentang budaya melayu seolah-olah ia ingin meninggalkan kesan yang dalam dari kisah Syalimah dan Zamzami.
Kita akan sering menjumpai cinta seperti itu kalau kita cermat terhadap lingkungan sekitar kita, cinta yang tidak diungkapkan dengan kata-kata, tapi dengan bentuk lain (senyum, perhatian, dll) dan tidak mengurangi sedikitpun makna cinta. Dan di suatu waktu kita sedikit demi sedikit lebih memahami cinta.
Itu adalah salah satu bahasan tentang segelas kopi.
Segelas kopi, kenapa tidak secangkir kopi? Cangkir ataupun gelas tetap sama isinya kopi, aku kadang menjumpai kopi yang malah wadah kopinya gelas kaca bening itu. Hehehe... Jadi ingat pas masih merantau kalau membuat kopi ya pakai gelas bukan cangkir, dan untuk meminumnya harus nunggu sampai gak terlalu panas tuh kopi (melatih kesabaran). ^^ Kalau memakai cangkir lebih enak, karena ada pegangannya, jadi lebih mudah ketika menuangkan ke dalam lepek.
Oh, iya kita kembali lagi ke kopi, apalagi yang kamu ingat tentang kopi?
Aku ingat juga salah satu bagian di novelnya Andrea Hirata, yang cuplikannya sebagai berikut:
"Mereka yang menghirup kopi pahit, umumnya bernasib seperti kopinya. Makin pahit kopinya, makin berliku-liku petualangannya. Hidup mereka penuh untaian marabahaya. Cinta? Berantakan. Istri? Pada minggat. Kekasih? Berkhianat di atas tempat tidur mereka sendiri! Bayangkan itu. Bisnis? Kena tipu. Tapi mereka tetap mencoba dan mencipta. Mereka naik panggung dan dipermalukan. Mereka menang dengan gilang gemilang. Mereka lalu kalang dengan tesuruk-surut. Mereka jatuh, bangun, jatuh dan bangun lagi. Dalam dunia pergaulan zaman modern ini, mereka disebut para players."
Setiap menyeduh kopi, aku kadang teringat dan bertanya-tanya, apa benar ya semakin pahit kopinya, menunjukkan jati diri seseorang seperti dalam novel Andrea? Kopi pahit adalah kopinya para player, yang suka menantang hidup, yang hidupnya gak biasa-biasa saja.
Yang jelas setiap membuat kopi aku teringat dengan filosofi-filosofi kopi yang disebut dalam novelnya itu.

Ana Nurul ^_^











No comments:

Post a Comment