Friday, 31 October 2014

Aku dan Buku "Sepotong Hati yang Baru"

Buku yang sangat menakjubkan menurutku. Aku yang sangat terbiasa membaca cerita yang mudah ditebak ceritanya, tiba-tiba serasa gmn gt saat membaca buku ini, karena memang ceritanya tak tertebak hingga kita mendekati akhir. Dan itu sungguh-sungguh sangat menakjubkan...


Buku "Sepotong Hati yang Baru" ini adalah buku kumpulan cerpen, yang tiap cermen di dalamnya menurutku sangat-sangat sarat akan makna, pesan yang pengen disampaikan penulis sesuai dengan apa yang terjadi belakangan ini di kalangan anak muda, mulai dari galau sampai susah move on.

Meski belum baca keseluruhan ceritanya aku tidak ingin hanya membaca begitu saja, karena itulah aku ingin menuliskan sedikit hal tentang cerpen-cerpen itu (yang telah ku baca).

Dimulai dari cerpen yang pertama, "Hiks, Ku Pikir itu Sungguhan", melalui cerpen ini penulis (Tere Liye) sepertinya bener-bener ingin menekankan bahwa anak muda terutama cewek haruslah membentengi dirinya dari rasa "GR" berlebih, karena terkadang rasa itu bisa berakhir menyakitkan ketika tidak sesuai dengan harapan, "jangan mudah GR" itulah pesan yang disampaikan penulis dalam cerpen pertama di buku ini, ada kata-kata yang sangat menarik dari cerpen ini :

"...Hiks, apa yang pernah ku bilang pada Putri? Makanya siapa suruh GR? Maka saat kebenaran itu datang, ia bagai embun yang terkena sinar matahari. Bagai debu yang disiram air. Musnah sudah semua harapan-harapan palsu itu. Menyisakan kesedihan. Salah siapa? Mau menyalahkan orang lain?" (Hal. 20)

Kata-kata di atas sungguh mampu menjelaskan betapa pentingnya untuk tidak mudah GR atas perlakuan orang lain.

Cerpen kedua, "Kisah Sie-Sie", dari judulnya saja kita sudah tahu bahwa cerpen ketiga ini menceritakan tentang kehidupan Sie-Sie, memperjuangkan hidup juga cintanya, juga kesetiaannya pada suatu pernikahan, dan keyakinan akan kemampuannya memenuhi janjinya pada ibunya. Ini adalah salah satu cerpen yang bikin aku mrebes mili mendekati akhir cerita, banyak hal yang bisa kita ambil dari cerpen kedua di buku ini, karena itu membaca sendiri sangat disarankan.

Cerpen ketiga,"Sepotong Hati yang Baru, cocok dibaca siapa saja, dan terkhusus bagi siapa saja yang belum bisa atau sulit move on. Aku tertarik dengan buku ini salah satu sebabnya selain baca nama penulisnya juga karena tertarik dengan judulnya, "Sepotong Hati yang Baru," bagaimana menyikapi "patah hati" yang ada di buku ini. Berikut cuplikan yang yang sangat menarik menurutku:

"Apakah..., di hatimu masih tersisa namaku," Suara Alysa kalah oleh desau angin. Tertunduk.

Aku mengingit bibir, menggeleng,"Kau tahu, saat itu aku akhirnya menyadari, aku tidak akan pernah bisa melanjutkan hidup dengan hati yang hanya tersisa separuh. Tidak bisa. Hati ini sudah rusak, tidak utuh lagi. Maka aku memutuskan membuat hati yang baru. Ya, hati yang benar-benar baru."(Sepotong Hati yang Baru: Tere Liye, hal. 50)

Nah, dari kutipan itu ada yang bisa kita ambil, yaitu tentang bagaimana move on dari patah hati yang parah, yaitu dengan mengganti hati kita dengan hati yang baru (makna konotasi), yang dalam arti kata lain dengan menutup buku tentang masa lalu dan fokus untuk memulai lagi hal-hal baru pada buku yang masih kosong di depan kita, merefresh hati kita kembali supaya tidak terus berada pada masa lalu.

Ya, begitulah sedikit kata-kata dari ku setelah membaca beberapa cerpen di buku ini. ^^

Lanjut baca lagi...
by Ana

Ngeblog » Posting »»

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Bisa ngeblog lagi, bisa posting tulisan di blog ini lagi, setelah beberapa hal yang penuh keruwetan untuk sampai di sini, hingga pasrah, karena segala jalan telah ditempuh, dan benar ternyata akhirnya bisa.


by Ana

Testing

Testing

by Ana

Nah

Nah kan...
by Anum

Tuesday, 28 October 2014

Jarang Posting

Niat hati pengen nulis sinopsis Jodha Akbar secara terus menerus dari episode yang aku tonton, eh malah ada beberapa episode yang belum aku tulis... Padahal beberapa episode di minggu kemarin sangat-sangatlah menarik.


Semoga ke depan bisa nulis lebih banyak hal lagi.
by Ana

Friday, 17 October 2014

Sinopsis Jodha Akbar Episode 76




Maham Anga pun tak luput dari rasa panik atas hilangnya Ratu Jodha. Ia segera memerintahkan Resam untuk menyuruh siapapun segera menemukan Ratu Jodha. Adham Khan hanya mempertanyakan kenapa ibunya, Maham Anga, bisa begitu panik atas hilangnya Ratu Jodha. Dan Maham Anga marah atas perkataan Adam itu, karena Adham tidak tahu apa-apa sama sekali...


Jalal segera mengerahkan pasukannya untuk mencari Ratu Jodha di seluruh penjuru istana. Ia juga memerintahkan perajurit untuk mencari di luar istana setelah di dalam istana tak menemukan Ratu Jodha.


Jalal memarahi semua pelayan Jodha termasuk Moti, karena bisa-bisanya tidak tahu saat Jodha keluar, Moti pub memint maaf dan bersedia dihukum atas kelalaiannya itu, asalkan saat ini Ratu Jodha cepat di temukan.

Jalal mendapat berita dari pasukan penjaga gerbang istana bahwa Ratu Jodha telah keluar dari istana dengan membawa kuda. Jalal segera mencari keluar istana beserta pasukannya yang menyusul di belakangnya.


____________________________


Maham Anga tahu jika yang telah membertahu Jalal untuk menyelamatkan Ratu Jodha adalah Ratu Rukaiya, segera ia menemui Ratu Rukaiya dan memberitahunya bahwa apa yang telah dilakukakan Ratu adalah salah. Dengan memberitahu Jalal itu berarti bahwa ia menyelamatkan nyawa Jodha, padahal menurut Maham nyawanya akan sebentar lagui tamat. Dan apa yang telah dilakukan Ratu Rukaiya ini pasti akan disesalinya suatu hari nanti, karena menurut Maham kekuatan Ratu Jodha sangatlah besar, terutama untuk membuat Raja jatuh cinta.


Ratu Rukaiya membalas perkataan Maham Anga dengan begitu lantang, bahwa ia tidak takut apapun karena menurutnya ada atau tidak adanya Jodha itu tidak berpengaruh apa-apa pada Jalal, dan lagi Jalal adalah tipe orang yang tidak punya hati, jadi tidak mungkin ia jatuh cinta. Jalal hanya bekerja dengan pikirannya dan Rukaiya lah yang tahu dan bisa mengatur isi pikirannya Jalal. Jadi kekhawatiran Maham tidak beralasan. (Hmmmmmm... Padahal ngliat reaksi dan sikap Jalal selama sudah bisa tahu pelan-pelan ia tertarik pada Jodha, dan tidak ia sadari).


________________________________


Hanya ada 3 cara keluar dari kerajaan di Agra, satu lewat gerbang utama, kedua lewat jalan rahasia yang Jodha bahkan tidak boleh tahu, dan ketiga lewat hutan... Tahu Jodha keluar lewat gerbang utama, segeralah Jalal menyusuri jalan untuk mecari Jodha.


Saat di atas kuda pikiran Jodha masih terus memikirkan keputusan yang akan ia ambil, ia ingat saat ibunya menjelaskan pengorbanan keluarganya untuk hubungan pernikahan Jodha dan Jalal, Jodha juga ingat saat Jalal memberitahunya bahwa ia menikahinya karena amat sangat membencinya. Jodha semakin mantap untuk segera mengakhiri hidupnya, karena ia tidak bisa pulang ke Amer, dan ia merasa tidak bisa terus-terusan hidup di Agra. Segera ia berlari menuju ke sebuah danau, saat itulah Jalal melihatnya dan segera menyusulnya, Jalal menyuruh Jodha untuk mengurungkan niatnya, namun ternyata Jodha tetap menjatuhkan dirinya ke dalam air, Jalal segera ikut masuk untuk menyelamatkan Jodha. Dan Jodha akhirnya gagal bunuh diri.


Jodha marah pada Jalal karena telah menggagalkan niatnya bunuh diri, namun Jalal lebih marah lagi pada Jodha karena merasa Jodha sudah kelewat batas, meski Jalal menikahinya atas dasar kebenciannya yang sangat mendalam pada Jodha, tapi selama ini Jalal selalu mendengar dan menuruti apapun yang Jodha mau, dari memeluk keyakinannya, pulang ke Amer, hingga perayaan warna, dan apa yang telah dilakukan Jodha saat ini benar-benar bisa menjatuhkan harga diri bangsa Mugal, maka dari itu Jalal mencegahnya.


Jalal segera menyuruh Jodha untuk mengikutinya, ia tidak membiarkan Jodha naik kuda sendiri, dan jadilah Jodha naik kuda berduan dengan Jalal, pasukan yang melihatnya jadi lega karena Ratu Jodha telah ditemukan, dan mereka segera kembali ke kerajaan.

Selama dalam perjalanan Jalal dan Jodha menjadi pusat perhatian bagi orang-orang yang melihat mereka berduaan naik kuda, keliahatan romantis. ^^

Jalal ternyata mengajak Jodha ke jalan rahasia menuju kerajaan, supaya orang-orang tidak melihat Jodha masuk ke istana (agar tidak menjadi pembicaraan orang banyak).

______________________________


Di kerajaan Ratu Hamida beserta keluarga kerajaan lainnya berharap-harap cemas menanti kabar pencarian Ratu Jodha, saat melihat Jalal datang sendirian semua bertanya-tanya dimana Ratu Jodha dan Jalal hanya menjawab jika ia berada di tempat yang aman, ia pergi tanpa izin dan karena itu ia sekarang sendirian di suatu tempat, itu sebagai hukumannya. Moti, pelayan Jodha, sempat menangis karena apa yang terjadi pada Jodha adalah kesalahannya, ia merasa menyesal, melihat itu Jalal memberitahu Moti bahwa Jodha baik-baik saja, hanya mungkin besok baru Jodha akan menemuinya, tidak sekarang.


______________________________


Hari itu juga ada seorang wali yang datang ke kerajaan dan memang Ratu Hamida ingin menanyakan beberapa hal pada Wali itu. Wali itu berkata jika akan terjadi sesuatu yang buruk beberapa hari ke depan terhadap Yang Mulia Raja, dan karenanya Yang Mulia harus berdo'a dengan mengajak seorang ratunya untuk berdo'a, dan ratu itu adalah ratu yang pertama kali terkena sinar matahari esok pagi. Rukaiya yang mendengar pembicaraan Wali itu dengan ibu mertuanya serta merta merasa senang karena pasti dialah yang akan diajak Jalal untuk berdo'a.


Bersambung...

Catatan: sinopsis ini kubuat dengan susunan bahasaku sendiri, jadi mungkin beberapa gak plek sama persis dengan di tv... Terutama menyangkut percakapan... ^^

Sinopsis Jodha Akbar Episode 75



Pada episode ini agak ketinggalan di awal-awal, nungguin anak nonton acara kesayangannya ^^ di chanel lain. Jadilah, aku gak nonton adegan waktu Adham Khan memarahi istrinya gara-gara membela Ratu Jodha.

.......................


Ratu Maina Wati, Ibu kandung Jodha, akhirnya tiba di Agra. Hal itu menjadi pertanyaan bagi Ratu Hamida, ibu Jalal juga bibi-bibinya, karena tidak mungkin karena alasan kesalahan Sang Ratu datang, berita tentang kesalahan Jodha di perayaan warna baru disampaikan ke Amer kemarin (perjalanan Amer ke Agra memakan waktu 3 hari). Pasti ada masalah yang lebih penting dari masalah perayaan di festival warna begitu tebakan Ratu Hamida juga bibi-bibi Jalal, dan semua itu akan diketahui kebenarannya saat di pengadilan.


-----------------------------------

Saat di pengadilan Jalal menyampaikan bahwa Jodha akan ia kembalikan ke Amer, mendengar keputusan Jalal, Ibu Jodha, Ratu Maina Wati sangat terkejut, ia khusus datang ke Agra untuk membicarakan masalah ini (meski dalam tradisi seorang ibu mertua dilarang datang ke rumah menantu laki-lakinya, Ratu Maina wati datang dengan melanggar tradisi untuk masalah ini), ia memohon kepada Jalal agar membatalkan keputusannya itu karena dalam tradisi di kerajaannya seorang wanita yang telah menikah tidak boleh meninggalkan rumah suaminya, jika meninggalkan rumah/ dikembalikan ke rumah orang tuanya itu merupakan hal yang sangat tidak baik jika alasannya karena masalah yang disebabkan oleh Jodha, yang mungkin masih bisa diselesaikan/ dibicarakan kembali dengan Jalal (masalah suami istri).


Ketika itu Jalal menjawab bahwa keputusan ini tidak diambilnya sendiri melainkan atas permintaan Ratu Jodha sendiri. Ratu Maina Wati semakin terkejut, ia memarahi Jodha, pengorbanan Jodha dan keluarganya atas hubungan Jodha dan Jalal sangatlah besar, ayahnya rela dihina dan dijauhi kerjaaan-kerajaan di Rajpur, selain itu Sukania, adiknya pun rela kehilangan calon suaminya, dan lagi jika Jodha benar-benar dipulangkan ke Amer kedua adik perempuannya juga akan kena imbasnya, mereka akan lebih sulit untuk menikah. Dan lagi setelah menikah rumah Jodha adalah di Agra, tempat suaminya berada, "... Aku menikahkanmu di Amer, dan aku berharap engkau mati di Agra," sedikit isi nasehat Ratu Mainawati pada Jodha.



Ratu Maina Wati memohon supaya Jalal membatalkan pemulangan Jodha, melihat ibunya memohon pada Raja Jalal, Jodha jadi semakin sedih, dan dengan sedih Jodha memberitahu pada ibunya bahwa ia tidak akan pulang ke Amer, ia akan memenuhi keinginan ibunya untuk tetap berada di Agra.


______________________________

Di kamarnya Jodha sangat sedih, hingga ia pun tidak memperkenankan Moti, pelayan setianya menemaninya. Ia ingin merenungi takdirnya sendiri.

Saat kesedihannya itu ia dilema, bahkan ada 2 bayangannya yang memberikan pendapat yang berbeda, satu bayangannya meminta Jodha tetap di Agra, dan yang lain memintanya pergi ke Amer meninggalkan Agra, Jodha sangat dilema, di satu sisi ia ingin pulang ke Amer, karena di Agra ia tidak merasa nyaman, namun di sisi lain ibunya menyuruhnya tetap di Agra, tidak diperbolehkan pulang dengan keadaan bermasalah dengan suaminya.


Di kamar Ratu Hamida, Ratu Maina Wati, ibu Jodha, meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan Jodha. Ia merasa keputusan Jodha meminta suaminya memulangkannya tidak tepat, karena saat suami istri mempunyai masalah haruslah diselesaikan baik-baik, ia menolak kepulangan Jodha karena dalam menyikapi masalah yang terjadi pada anak yang telah berkeluarga, orang tua hendaknya tidak ikut campur. Ratu Hamida pun berterima kasih pada Ratu Maina Wati karena telah meminta Jodha untuk tetap tinggal, ia juga meminta Ratu Maina Wati tidak khawatir terhadap Jodha karena Ratu Hamida sebagai ibunya (ibu mertuanya) di Agra akan selalu ada untuknya. Ratu Maina Wati merasa bersyukur karena Jodha memiliki ibu mertua yang sangat baik. Dan setelah itu ia berpamitan untuk pulang.

_________________________________


Ratu Hamida ingin menemui Jodha untuk menyampaikan padanya jika ibunya telah pulang ke Amer, dan karena suatu alasan tidak bisa bermitan pada Jodha, tapi di kamar Jodha hal yang mengejutkan terjadi, Jodha hilang...


Seketika seluruh istana heboh atas menghilangnya Ratu Jodha, Jalal pun terkejut, ia segera meminta seluruh pasukannya untuk mencari Jodha, ia seperti kuwalahan atas apa yang dilakukan oleh Jodha, dengan menghilang/kabur Ratu Jodha berarti berani untuk tidak patuh pada peraturan di Agra, dan karena itu Jalal geram.


Saat Jalal mendatangi Ratu Rukaiya, Ratu Rukaiya hanya tertawa melihat rasa geramnya Jalal, dan ia pun memberitahu Jalal bahwa seorang wanita yang mempunyai masalah seperti Ratu Jodha tak akan takut untuk melakukan bunuh diri, dan tradisi yang ada di kerajaan Jodha untuk melindungi keh ormatannya seseorang akan rela melakukan apa saja termasuk mati. Jalal terkejut mendengar penjelasan dari Ratu Rukaiya.


Bersambung...


Catatan: sinopsis ini kubuat dengan susunan bahasaku sendiri, jadi mungkin beberapa gak plek sama persis dengan di tv... Terutama menyangkut percakapan... ^^

  

Thursday, 16 October 2014

lho...

Setelah berkali-kali ku edit postingan sinopsis di posting sebelumnya,
tetep saja susahnya minta dibelikan bakwan (eh ada bakwan lewat...
Bikin ngiler saat pengen diet » macak lagi diet :D), yang jelas
lumanya bikin tangan kriting, hampir sama kyak pas ngetik proses
pengeditannya (lebay bangeeet... Padahal dikit nulisnya ^^).

Dan ketika setelah selesai diedit hasilnya sami mawon, podho wae,
dalam Bahasa Indonesianya sama saja, tidak ada perubahan, dimana spasi
berada pada tempat yang tidak pas. Harap maklum, karena lagi-lagi
akses email belum didapat secara full, ^^.

Saking pengennya nulis, jadilah tulisan, meski gak da fotonya,
pengaturan yang amburadul... Tetep seneng... Bisa kembali posting :)

Sinopsis Jodha Akbar Episode 74



Terakhir posting sinopsis Jodha Akbar adalah sinopsis episode 62, dan sekarang pengen nulis langsung yang episode 74, itu berarti ada 12 episode yang gak (mungkin belum) ku posting di blog ini. ^^

--------------------------------------

Atas izin Jalal dan ibu mertuanya Jodha merasa lega karena bisa merayakan festival warna bersama dengan gadis-gadis di istana yang mempunyai kepercayaan yang sama dengannya.


Maham Anga yang memang sangat tidak suka dengan Ratu Jodha berusaha mencegah sebisa mungkin terjadinya perayaan itu. Salah satu cara yang ia gunakan adalah dengan tidak memberi libur kepada para pelayan yang akan merayakannya bersama Jodha.

Para pelayan menjadi sangat khawatir akan perayaan itu karena sepertinya Maham Anga tidak menyukai perayaan itu dirayakan oleh Ratu Jodha. Tetapi Ratu Jodha mengatakan kepada mereka tidak perlu takut, karena Raja sendirilah yang telah memberikan izin padanya, dan para pelayan pun setuju untuk turut serta merayakannya bersama Ratu Jodha.


...........................................


Saat perayaan pun tiba, dengan berbagai warna yang telah disiapkan Jodha juga para pelayannya bersiap saling menghias wajah dengan serbuk warna, saat Ratu Jodha akan melempar serbuk warna ke salah seorang pelayannya, tiba-tiba serbuk warna itu mengenai Maham Anga yang sedang lewat, tanpa berkata apa-apa Maham Anga pergi meninggalkan Jodha.


"Ratu, sepertinya ini pertanda buruk, bahkan Maham Anga tidak mengatakan sepatah katapun, ini lebih dari sekedar marah," kata salah satu pelayan.

Di tempat lain (baca: kamarnya) Maham Anga langsung melihat dirinya di depan kaca, bagaimana penampilannya yang memakai baju serba putih kini menjadi serba merah karena terkena serbuk warna itu, ia sangat sangat marah dan meminta Resam, pelanyan setianya, untuk memberitahu Raja Jalal atas apa yang telah menimpanya.


Jalal sedang berdikusi dengan pemuka agama tentang masalah toleransi agama, tentang bagaimana seseorang yang berbeda agama untuk alasan apapun dilarang melukai keyakinan agama lain. Saat itu Resam datang, dan dengan terbata-bata menjelaskan atas apa yang terjadi pada Maham Anga.


Jalal marah besar dan langsung melihat kondisi bibinya tercinta, Maham Anga, di kamarnya. Dengan (sangat lebai menurutku) kemarah Maham Anga, mengatakan sangat terluka atas apa yang telah dilakukan oleh Ratu Jodha, bagaimanapun setelah kematian suaminya ia tidak pernah sekalipun memakai baju berwarna, dan hanya memakai pakaian putih saja, dan kini pakaian itu telah kotor karena Ratu Jodha.


Dengan Geram Jalal mendatangi Jodha di kamarnya. Jodha dimarahi habis-habisan oleh Jalal, Jalal memang memeberikan ijin atas festival warna ini adalah untuk hadiah bagi Jodha sebelum Jodha meninggalkan Agra, tapi apa yang telah dilakukan Jodha sudah sangat melewati batas, dengan sengaja ataupun tidak warna yang ia lemparkan mengenai Maham Anga, yang artinya seperti tidak menghormati keyakinan Maham Anga, keyakinan sebagian besar penduduk Agra, Jodha meminta maaf atas itu semua, ia juga merasa bersalah meski itu tidak sengaja, dan dia bersedia untuk dihukum apa saja atas kesalahannya itu.

Jalal akan segera memutuskan hukuman untuk Jodha di depan pengadilan, dan orang dari Amer pun harus tahu akan masalah ini.


Menanti waktu keputusan dari Jalal Jodha melamun di kamarnya, dan saat itu juga Maham Anga masih dengan kemarahannya masuk dan memberi tahu Ratu Jodha bahwa yang akan datang ke Agra dari Amer (kerajaannya Jodha) adalah ibunya sendiri, dan Ibunya Jodhalah (Ratu Maina Wati) yang akan memutuskan hukuman yang pantas untuk Jodha, supaya hukuman untuk Jodha sesuai dengan tradisi kerajaannya yang ia pegang kuat selama ini.



Bersambung...


Nantikan lanjutannya nanti malam jam setenga sembilan malam (pukul 20.30 WIB) di antv. ^^





Tuesday, 7 October 2014

Posting oh Posting

Bener-bener baru nyadar kalau postingan blogku di bulan oktober hanya satu judul, "Senyum ^^", isinya pun hanya satu kata, hmmmm... Kelihatan sekali jika si empunya blog sedang dilanda writer's block, terlepas penyebabnya dari diri sendiri atau dari luar tetep kondisi itu sunggung sangat tidak mengenakkan, karena bener-bener kehabisan ide untuk ngisi blog ini (padahal dari dulu isinya biasa-biasa saja ^^), mungkin ke depan isi postingan adalah tulisan yang memang dibuat untuk menghalau writer's block.



by Anum