Friday, 26 December 2014

Sungai, Kali

sumber gambar ilustrasi 


Nonton acara Si Bolang pas scane na banyak sungainya, jadi inga pas masih kecil dulu (masa SD) demen sekali bermain ke sungai atau dalam bahasa di daerahku lebih sering disebut kali. Karena diwanti-wanti orang tua untuk tidak sering-sering ke kali, bahkan terkesan dilarang jika tidak ada temannya, maka akupun jarang ke sungai meski seneng main di sungai. Alasan orang tua melarang memang baik, karena memang sungai di dekat rumah dan membentang hampir di sepajang desaku adalah termasuk sungai besar dan arusnya terkadang tidak terprediksi, harus benar-benar berhati-hati bermain di sana, sebisa mungkin ditemani orang dewasa ketika bermain di kali.
Masa kecil dihabiskan di desa, membuat kisah masa kecilku pun tak sepi dari sungai. Sungai, bermain di sungai menjadi saat bermain yang tak terlupakan. Masih ingat sekali kala itu, aku bersama teman-teman belajar kelompok, semua sepakat untuk belajar kelompok di rumah teman yang deket sungai yang tidak begitu dalam dan cocok untuk bermain.... karena rencananya setelah selesai belajar kelompok aku juga teman-teman akan bermain di kali, berenang bersama, bermain air bersama. Dan benar setelah selesai belajar kelompok aku serta teman-teman langsung ke sungai bermain bersama, dengan berbekal baju ganti juga gedebok (bagian dari pohon pisang) teman-teman menceburkan diri ke dalam air, suasana alam yang begitu memukau pun turut serta menghiasi keceriaanku bersama teman-teman. Suara burung yang bersahutan, gemericik air, garempong dan sayapnya, juga tawa teman-temanku membuat keceriaan siang itu menjadi sangat sempurna.

Dari Buku Motivasi Menulis

If want to write, write and keep writing.
 jika kamu menulis draft pertama, jangan pikirkan hasilnya akan bagus atau tidak. yang lebih penting untukmu adalah terus menulislah.
 kamu tidak akan pernah menuliskan seuah cerita yang sempurna. bahkan jangan pernah sekedar untuk mencobanya pun.
gembiralah
have faith (yakinlah)
 tidak usah beranalisis, menulis ya menulis sajalah.

dari buku Creative Wisdom for Writer by Roland Fisherman.

Thursday, 25 December 2014

(Review Buku) Seribu Tahun Kumenanti by Marga T.



Judul Buku : Seribu Tahun Kumenanti
Penulis : Marga T.
ISBN : 979-511-260-0
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Editor /Penyelaras Kata :
Desain cover : Srianto
Terbit : Desember 2006 (Cetakan ketujuh)
Tebal : 18 cm
312 halaman
Pinjam di Perpustakaan Daerah Kabupaten Jember
Ishtar Hadiz, seorang gadis cantik yang baru lulus dari sekolah menengah, harus menghadapi banyak hal dalam hidupnya sepeninggalan ayahnya yang seorang dokter. Meninggal pasca kebangkruatan kliniknya membuat ayah Ishtar tidak meninggalkan banyak harta untuk keluarganya, karena itulah Ishar dilema saat harus memilih antara ia atau adiknya yang harus melanjutkan kuliah. Tak tega melihat cita-cita adiknya tak kesampaian ia rela melepas tabungan dari ayahnya yang bererti melepas cita-citanya masuk FK.
Masalah tak sampai di situ, ada surat dari Apollo, orang aneh bin misterius yang terus menganggunya.
“Kalau aku tak dapat memiliki dirimu, orang lain pun tak akan bisa!” (Hal.40)
Surat dari seorang psyco itu tentu sangat menganggunya, bahkan si psyco benar-benar merealisasikan ancaman dalam suratnya dengan menusuk paha Ishtar.
Takut terjadi apa-apa dengan putrinya, ibu Ishtar menyarankan Ishtar untuk menikah saja, ibunya yang awalnya menolak Ishtar menikah muda, belakangan malah pengen Ishtar cepat menikah, selain karena surat ancaman juga karena ada orang baik-baik yang melamar Ishtar, seorang dokter muda, anak dari sahabat ayahnya. Karena takut mengecewakan ibunya Ishar mengiyakan saja saran ibunya, setelah semua persiapan pernikahan selesai disiapkan, saat menjelang hari H, Ishtar kabur, menyusul kekasihnya ke Amerika, sekalian ingin melanjutkan kuliah katanya.
Tanpa tahu wajah calon suaminya juga tanpa mempedulikan perasaan sang calon mempelai laki-laki Ishtar pergi begitu saja, meninggalkan banyak masalah yang harusnya ia hadapi di rumahnya. Apakah masalaha selesai setelah Ishar pergi??? Bahagiakah ia di Amerika bersama kekasihnya???
Masalah yang terjadi pada Ishar terus berlanjut saat ia di Amerika, pernikahan sepihaknya yang tetap dilakukan di Indonesia, kekasihnya, Mardi, yang berkhianat, biaya kuliah yang distop oleh bibinya karena suatu hal, sampai suaminya meninggal dan mewariskan banyak harta padanya, yang bisa ia gunakan untuk menyambung hidup serta biaya kuliah di Amerika.
Pulang ke Indonesia sebagai seorang dokter, bekerja di RS tidak berarti Ishtar telah lepas dari masalah-masalah dari masa lalunya, malah pasca kepulangannya, ancaman dari sang Apollo muncul lagi, bahkan Apollo sempat menembaknya hingga membuatnya hampir kehilangan nyawa. Tapi selain masalah-masalah itu, ada sesuatu yang lebih besar, yaitu seseorang yang telah menunggu “seribu tahun lamanya”, menunggu cinta Ishar dengan begitu sabarnya.
“Berapa lama kau di Amerika Ish? Tujuh tahun? Delapan? Sudah berapa lama kau pulang? Setahun lebih, kan? Hampir dua tahun? Tapi bagiku sudah seribu tahun aku menunggumu.” ……..
“Apa kau mau menyuruhku menunggu seribu tahun lagi?”
(Hal. 295)
“Sekarang kau sudah mengalami bagaimana rasanya mencintai seseorang tanpa harapan?”
“Oh, Paul! Jangan diulangi lagi! Seminggu sudah lebih dari cukup!” keluhnya.
“Cuma seminggu?” Bagaimana denganku? Hampir sepuluh tahun aku harus menunggumu! Lima ratus minggu lebih! Dapatkah kau banyangkan bagaimana hidupku waktu itu?”
(Hal. 310)
Jelas sudah bagaiman cinta Paul pada Ishtar, ditinggal minggat ke luar negeri bersama pacarnya pula, dengan alasan untuk melanjutkan kuliah… Paul tetep menunggu, bahkan orang yang ditunggu tidak tahu bahwa ia sedang ditunggu… “mencintai tanpa harapan” begitu kata Paul.
________________________________

Thursday, 4 December 2014

Ketika Ban Sepeda Bocor...

Hari ini memang aku berencana untuk ke pusda, dan beneran rencanya pinjam buku sukses. Setelah proses pencatatan pinjaman buku di petugas pusda, aku dan keponakanku pengen liat bazar buku yang ada di depan pusda, buku yang di jual kisaran harga 5k-30k, hehehe... Meski tergolong murah, aku gak beli, karena belum nemu judul yang pas, apalagi kalau bukunya sudah ada di pusda, ya kan lebih baik minjem ^^.


Cerita hari ini sepertinya memang gak mulus semuanya, ya terbukti dengan dipanggilnya aku saat naik sepeda oleh bapak tukang parkir, dia bilang sepedaku bocor, dan benar ban sepeda bagian belakang kempes. Untung di dekat pusda ada tempat tambal ban, jadi gak terlalu jauh nuntun sepeda.

Sambil nungguin bapaknya selesai nambal iseng-iseng beli cilok di seberang jalan, lumayan buat temen sepi di tengah hiruk pikuk jalanan yang sepertinya gak pernah absen dilewati kendaraan. Jadi ingat lagunya Dewa, "... Di tengah keramaian aku merasa sepi, sendiri memikirkan kamu..." Yeeeee... Tapi mah beda sepinya, kalau kondisi seperti ini sepinya karena gak ada yang mau diomongin, karena ngomongpun akan kalah suaranya sama kendaraan yang lalu lalang. Jadilah merasa sepi.

Jadwal hari ini sepertinya lumayan padat, setelah makan cilok disambi nunggu ban sepeda tertambal, habis ini kalau lancar langsung beli bahan-bahan kue, habis itu masih ada seabreg kegiatan yang harus dilakukan di rumah »» namanya juga macak sibuk (daripada macak males) ^^.


by Ana