Thursday, 25 December 2014

(Review Buku) Seribu Tahun Kumenanti by Marga T.



Judul Buku : Seribu Tahun Kumenanti
Penulis : Marga T.
ISBN : 979-511-260-0
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Editor /Penyelaras Kata :
Desain cover : Srianto
Terbit : Desember 2006 (Cetakan ketujuh)
Tebal : 18 cm
312 halaman
Pinjam di Perpustakaan Daerah Kabupaten Jember
Ishtar Hadiz, seorang gadis cantik yang baru lulus dari sekolah menengah, harus menghadapi banyak hal dalam hidupnya sepeninggalan ayahnya yang seorang dokter. Meninggal pasca kebangkruatan kliniknya membuat ayah Ishtar tidak meninggalkan banyak harta untuk keluarganya, karena itulah Ishar dilema saat harus memilih antara ia atau adiknya yang harus melanjutkan kuliah. Tak tega melihat cita-cita adiknya tak kesampaian ia rela melepas tabungan dari ayahnya yang bererti melepas cita-citanya masuk FK.
Masalah tak sampai di situ, ada surat dari Apollo, orang aneh bin misterius yang terus menganggunya.
“Kalau aku tak dapat memiliki dirimu, orang lain pun tak akan bisa!” (Hal.40)
Surat dari seorang psyco itu tentu sangat menganggunya, bahkan si psyco benar-benar merealisasikan ancaman dalam suratnya dengan menusuk paha Ishtar.
Takut terjadi apa-apa dengan putrinya, ibu Ishtar menyarankan Ishtar untuk menikah saja, ibunya yang awalnya menolak Ishtar menikah muda, belakangan malah pengen Ishtar cepat menikah, selain karena surat ancaman juga karena ada orang baik-baik yang melamar Ishtar, seorang dokter muda, anak dari sahabat ayahnya. Karena takut mengecewakan ibunya Ishar mengiyakan saja saran ibunya, setelah semua persiapan pernikahan selesai disiapkan, saat menjelang hari H, Ishtar kabur, menyusul kekasihnya ke Amerika, sekalian ingin melanjutkan kuliah katanya.
Tanpa tahu wajah calon suaminya juga tanpa mempedulikan perasaan sang calon mempelai laki-laki Ishtar pergi begitu saja, meninggalkan banyak masalah yang harusnya ia hadapi di rumahnya. Apakah masalaha selesai setelah Ishar pergi??? Bahagiakah ia di Amerika bersama kekasihnya???
Masalah yang terjadi pada Ishar terus berlanjut saat ia di Amerika, pernikahan sepihaknya yang tetap dilakukan di Indonesia, kekasihnya, Mardi, yang berkhianat, biaya kuliah yang distop oleh bibinya karena suatu hal, sampai suaminya meninggal dan mewariskan banyak harta padanya, yang bisa ia gunakan untuk menyambung hidup serta biaya kuliah di Amerika.
Pulang ke Indonesia sebagai seorang dokter, bekerja di RS tidak berarti Ishtar telah lepas dari masalah-masalah dari masa lalunya, malah pasca kepulangannya, ancaman dari sang Apollo muncul lagi, bahkan Apollo sempat menembaknya hingga membuatnya hampir kehilangan nyawa. Tapi selain masalah-masalah itu, ada sesuatu yang lebih besar, yaitu seseorang yang telah menunggu “seribu tahun lamanya”, menunggu cinta Ishar dengan begitu sabarnya.
“Berapa lama kau di Amerika Ish? Tujuh tahun? Delapan? Sudah berapa lama kau pulang? Setahun lebih, kan? Hampir dua tahun? Tapi bagiku sudah seribu tahun aku menunggumu.” ……..
“Apa kau mau menyuruhku menunggu seribu tahun lagi?”
(Hal. 295)
“Sekarang kau sudah mengalami bagaimana rasanya mencintai seseorang tanpa harapan?”
“Oh, Paul! Jangan diulangi lagi! Seminggu sudah lebih dari cukup!” keluhnya.
“Cuma seminggu?” Bagaimana denganku? Hampir sepuluh tahun aku harus menunggumu! Lima ratus minggu lebih! Dapatkah kau banyangkan bagaimana hidupku waktu itu?”
(Hal. 310)
Jelas sudah bagaiman cinta Paul pada Ishtar, ditinggal minggat ke luar negeri bersama pacarnya pula, dengan alasan untuk melanjutkan kuliah… Paul tetep menunggu, bahkan orang yang ditunggu tidak tahu bahwa ia sedang ditunggu… “mencintai tanpa harapan” begitu kata Paul.
________________________________

No comments:

Post a Comment